31 Agustus 2025 5:55 am

Oleh: Miswanto
(Waka Kesiswaan SMP Negeri 01 Batu, Penulis Buku di Interfaith Rainforest Initiative Indonesia)

Pendahuluan

Dewasa ini hampir tidak ada negara yang luput dari krisis ekologi yang melanda sebagian besar wilayah di bumi pertiwi. Kerusakan lingkungan ini menjadi tanda-tanda akan minimnya kesadaran masyarakat untuk menjaga lingkungan yang menjadi faktor utama terancamnya bumi dari keserakahan manusia. Tingkat kerusakan alam pun meningkatkan resiko bencana alam yang akan terjadi.

Seperti kata Ebiet G.A.D. dalam lirik lagunya yang berjudul “Berita Kepada Kawan” — barangkali di sana ada jawabnya, mengapa di tanahku terjadi bencana, mungkin Tuhan mulai bosan melihat tingkah kita, yang selalu salah dan bangga dengan dosa-dosa, atau alam mulai enggan bersahabat dengan kita, coba kita bertanya pada rumput yang bergoyang. Lirik lagu dari Ebiet di ata mengingatkan kepada kita semua akan pentingnya menjaga alam.

SMP Negeri 01 Batu adalah sekolah yang terletak di tengah kota. Meski dengan lahan yang minim, tahun ini sekolah yang dikenal sebagai Nesaba (akronim dari SMP Negeri 01 Batu) maju ke Adiwiyata Nasional. Pencapaian ke tahap ini tentu bukanlah hadiah yang turun dari langit, tetapi hasil perjuangan dan daya upaya yang luar biasa dari seluruh warga sekolah. Lebih-lebih salah satu visi utama dari Nesaba adalah “berwawasan lingkungan”.

Tulisan ini merupakan hasil refleksi saya untuk menguatkan kembali akar-akar keimanan terhadap Tuhan Yang Maha Esa di kalangan warga Nesaba melalui jalur “lingkungan hijau” yang digagas dalam sebuah artikel berjudul “Ekoteologi dan Nesaba yang Berwawasan Lingkungan”.

Konsep Ekoteologi

Ekoteologi atau ecotheology merupakan gabungan dari kata “ekologi” dan “teologi”, yang kemudian lazim disingkat dengan ekoteologi. Ekologi adalah ilmu yang mempelajari tentang lingkungan, sementara teologi adalah ilmu tentang Tuhan (teo berasal dari kata tέως atau theos dalam bahasa Yunani yang berarti Tuhan). Ekoteologi merupakan cabang ilmu yang mempelajari hubungan antara agama dan lingkungan, khususnya bagaimana nilai-nilai agama dapat memberikan kontribusi pada pemahaman dan solusi terhadap krisis lingkungan.

Secara sederhana, ekoteologi mencoba memahami bagaimana agama dapat berperan dalam menjaga kelestarian lingkungan. Setiap orang yang beragama diharapkan dapat memahami nilai-nilai luhur dalam ajaran agamanya dan menginterpretasikannya dalam tata perilaku yang berorientasi pada kepedulian lingkungan.

Hampir tidak ada ajaran agama yang mengajarkan umatnya untuk merusak lingkungan. Islam dengan Hablumminallah, Hablumminannas, dan Hablumminal Alam; Kristen atau Katolik dengan ajaran Kasih universal, termasuk kepada alam; Hindu dengan ajaran Tri Hita Karana (tiga unsur keharmonisan antara Tuhan, manusia, dan alam); Buddha dengan ajaran Paticca Samuppada (interdependensi) dan Karuna (welas asih) kepada seluruh alam; serta Konghucu dengan ajaran Dao-Tian dan Yin-Yang yang selalu menginginkan keseimbangan alam semesta.

Namun demikian nampaknya para penganut agama tidak sepenuhnya menjalankan ajaran agamanya itu dengan baik, terutama yang berkaitan dengan tanggung jawabnya kepada lingkungan. Ekoteologi ini mengkritisi pandangan-pandangan antropomorfis yang cenderung mengabaikan kepentingan lingkungan dan mendorong pendekatan yang lebih holistik, yang mengakui hubungan timbal balik antara manusia dan alam. Singkatnya, dalam ekoteologi ini, “siapa yang menjaga alam, maka dia juga akan dilindungi oleh alam, dan siapa yang merusak alam, maka dia akan hancur oleh alam itu sendiri.”

Krisis Lingkungan sebagai Krisis Spiritual

Menurut Sayyed Hossein Nasr, seorang ilmuwan berkebangsaan Iran, kriris lingkungan yang ada dalam beberapa dekade ini hakikatnya juga menjadi bagian dari impact atas krisis yang paling pokok, yaitu krisis spiritual yang dialami oleh manusia modern sekarang ini. Nasr menyatakan bahwa kerusakan yang terjadi di bumi akibat sains, teknologi, dan ekonomi kapital semuanya berakar dari krisis spiritual yang dialami manusia. Saat ajaran agama hanya dijadikan sebagai sebuah seremonial, tanpa pemahaman yang esensial dan penghayatan dalam setiap tindakannya, maka itu semua hanya akan jadi “omon-omon” belaka.

Satu tahun yang lalu, ketika saya diminta menjadi penulis buku oleh Interfaith Rainforest Initiative (IRI) Indonesia, lembaga yang konsen untuk hutan tropis di Indonesia, saya banyak menyorot tentang bagaimana ajaran agama tidak hanya dijadikan sebagai pedoman teks atau dalam filosofi Jawa disebut sebagai kitab garing, tetapi menyentuh esensi perilaku yang bersifat konteks atau dalam filosofi Jawa disebut sebagai kitab teles.

Dalam tembang Pucung yang ditulis pada Serat Wedhatama III.1 disebutkan:
ngelmu kalakone kanthi laku (ilmu termasuk ilmu agama harus diwujudkan dalam perilaku),
lekase lawan kas (diawali dari niat yang tulus),
tegese kas nyantosani (maknanya itulah yang menguatkan),
setya budya pangekese dur angkara (dengan upaya yang kuat termasuk pembiasaan, akan membasmi seluruh keangkara murkaan dalam dirinya).

Nasehat dari Mangkunegara IV di atas dapat dimaknai bahwa agama itu harus dijalankan bukan sekedar diajarkan. Jika seorang agamawan hanya bisa menyampaikan, tetapi minim tindakan, maka ia hanya menjadi seorang yang jarkoni, bisa ujar ora bisa nglakoni (bisa bicara, tidak bisa bekerja). Untuk itu harus diawali dengan niat suci dari dalam lubuk hati yang terdalam. Makna yang dipahami dan dihayati dari ajaran agamanya itulah yang seharusnya menguatkan segala upayanya untuk menjadikannya sebagai sebuah habit (pembiasaan). Itulah yang bisa menjadikannya sebagai manusia yang berbudi luhur.

Ekoteologi dan Nesaba Bersih

Nesaba adalah sekolah yang memiliki visi jelas terkait dengan lingkungan. Sebagaimaan kita ketahui bahwa visi Nesaba adalah “menghasilkan lulusan yang cerdas, berkarakter, kompetitif, dan menguasai IPTEKS, serta berwawasan lingkungan”. Tentu yang berkaitan dengan ekoteologi ini adalah kata-kata “berkarakter” dan “berwawasan lingkungan”. Sebagaimana yang dijabarkan dalam indikator visi, salah karakter yang ingin dibangun terlebih dahulu dalam visi ini adalah karakter religius atau berakhlak mulia, dan dalam kata “berwawasan lingkungan” tentunya Nesaba ingin agar setiap lulusannya bisa mencintai dan peduli pada lingkungannya.

Kedua kata tersebut, sudah cukup mewakili untuk sebuah konsep ekoteologi. Mereka yang berkarakter religius harus mampu mewujudkan kecintaan dan kepeduliannya terhadap lingkungan. Konsep ini juga bisa dijelaskan dengan ungkapan, jika orang yang mencintai Tuhannya, maka dia juga harus mencintai alam yang diciptakan oleh Tuhannya. Salah wujud rasa kecintaan dan kepedulian kita terhadap alam yang paling mudah diucapkan, tetapi sulit untuk dilakukan adalah “menjaga lingkungan tetap bersih”.

Mungkin terlalu muluk-muluk jika kita harus berbicara dalam skala lingkungan desa, kecamatan, kota, atau bahkan yang lebih luas dari itu. Cerminan yang mudah dilihat adalah pada lingkungan kelas masing-masing, bagaimana menjaga lingkungan di kelas itu tetap bersih. Nampaknya, satu indikator ini saja membutuhkan effort yang luar biasa untuk mewujudkannya.

Nesaba bersih adalah indikator yang tampak nyata dalam ranah ekoteologi. Bahkan ada hadist Nabi yang mengatakan “النظافة من الإيمان (kebersihan adalah sebagian dari iman)”. Artinya jika kita memang orang-orang yang beriman, maka kita harus bisa menjaga kebersihan. Semua agama mengajarkan bahwa para jamaah, jemaat, atau bhakta yang ingin masuk ke tempat ibadah (masjid, gereja, pura, wihara, atau klenteng) untuk memuja Tuhannya, mereka harus membersihkan dahulu badannya dari kotoran. Itulah cara mereka menghargai rumah Tuhannya. Oleh karena itu, siapapun dia, beragama apapun dia, kebersihan harus menjadi tangggung jawabnya.

Nesaba bersih ini harus menjadi “tag line” utama jika kita ingin mewujudkan sekolah yang berwawasan lingkungan. Teorinya terlihat mudah, bersih itu bebas dari sampah, bersih itu indah, bersih itu nyaman, bersih itu enak, dan seterusnya, tetapi praktiknya kadang sulit dilakukan. Orang Indonesia sejak kecil atau semasih duduk di PAUD diajari untuk membuang sampah pada tempatnya. Banyak slogan yang ditempel di kelas, lagu untuk itu juga ada, nasehat hampir setiap hari didengar, namun kenyataannya masih saja ada yang membuang sampah sembarangan.

Mungkin jika kita menengok di kolong-kolong meja anak-anak, di rak-rak buku, di balkon dekat jendela, di koridor-koridor kelas, atau tempat-tempat tersembunyi lainnya, kita bisa menemukan sampah di sana. Apakah mereka tidak mengetahui itu sampah? Tentu mereka mengetahuinya. Apakah mereka sudah diajari atau dinasehati oleh gurunya untuk membuang sampah pada tempatnya? Tentu mereka sudah dinasehati, bahkan hampir setiap hari mereka diingatkan melalui pengeras suara. Namun kenyataannya masih saja ada yang membuang sampah melalui jendela, di kolong meja, atau ketika mereka jalan-jalan di sekitar lingkungan sekolah, dengan sengaja membuang sampah dengan dilempar begitu saja.

Kesadaran akan peduli sampah pun belum nampak secara nyata tumbuh dalam diri anak-anak kita. Sebagai contoh saat mereka berada di aula, di labas, di kantin, di sekitar kelas, atau di tempat-tempat lain di lingkungan sekolah, sampah yang berserakan pun tidak membuat mereka risih untuk mengambil. Acuh dan cuek terhadap sampah menjadi perilaku yang sering ditemui. Meskipun kadang sudah diberikan contoh oleh bapak ibu guru, anak-anak tampak tak bergeming melihat “kejadian yang ada di samping”. Mereka hanya mau ketika disuruh untuk mengambil sampah tersebut. Itu pun yang ditunjuk saja sesuai dengan perintah gurunya. Kalau pun ada yang lain di sekitar itu, biasanya dibiarkan saja.

Memang tidak gampang untuk menanamkan perilaku peduli terhadap lingkungan. Slogan yang tertempel di dinding atau nasehat yang berbusa saja tidak cukup untuk menggugah kesadaran. Jepang adalah salah satu contoh negara yang berhasil “mendidik” warganya untuk “peduli pada lingkungan”. Tak mengherankan saat mereka menonton bola di stadion untuk mendukung timnas Jepang, mereka selalu membawa kantong sampah. Usai pertandingan, mereka pun memunguti sampah yang ada di stadion tersebut. Padahal mereka juga tahu bahwa mereka membayar tiket yang mahal dan pastinya itu sudah termasuk ongkos tukang bersih-bersih. Akan tetapi, karena itu sudah menjadi “habit” mereka, maka meskipun “sudah membayar tukang sampah”, mereka tetap akan memungut sampah dari sisa-sisa makanan mereka. Itulah pengalaman pembelajaran yang sudah mereka dapatkan sejak duduk di bangku PAUD, keluarga, sekolah, hingga masyarakat mereka.

Kita sebagai bangsa Indonesia seharusnya malu pada orang-orang Jepang itu. Di Jepang tidak ada kementerian agama. Ceramah-ceramah agama di sana pun tidak sesering yang ada di Indonesia. Akan tetapi, mereka bisa mempraktikkan ajaran tentang pentingnya kebersihan dan peduli lingkungan yang banyak dibahas dan diajarkan dalam buku-buku agama yang ada di Indonesia dengan baik, bahkan penerapannya lebih baik dari kita.

Siapa yang Bertanggung Jawab atas Nesaba Bersih?

Jika kita menanyakan pertanyaan di atas kepada seluruh warga Nesaba, baik itu guru, tenaga kependidikan, murid, atau para pedagang yang ada di kantin, maka pasti akan menjawab kita semua bertanggung jawab atas Nesaba bersih itu. Ya, memang Nesaba bersih itu bukan tanggung jawab kepala sekolah atau guru saja, semua warga sekolah yang berkegiatan di sekolah wajib bertanggung jawab atas Nesaba bersih.

Kita semua harus sadar bahwa tenaga kebersihan untuk seluruh lingkungan sekolah di Nesaba itu sangat terbatas. Sekolah tidak memiliki anggaran yang cukup untuk membayar tenaga kebersihan yang mengurusi kebersihan di kolong meja, balkon dekat jendela, atau tempat-tempat sebagaimana disebutkan di atas. Menarik iuran untuk dana kebersihan ke murid, tentu akan menjadi masalah, karena “sekolah gratis”. Orang tua murid juga tidak akan mau jika setiap hari mereka harus ke sekolah membantu membersihkan kelasnya. Itu tidak akan mendidik anak-anak menjadi bertanggung jawab atas kebersihan lingkungannya.

Rasa tanggung jawab atas Nesaba bersih ini harus terus dipupuk di kalangan warga sekolah. Sekolah berwawasan lingkungan harus terus digemakan sebagai branding Nesaba. Kepedulian untuk itu perlu terus ditingkatkan, agar nantinya ada yang saling mengingatkan kepada kita semua. Itu semua demi kenyamanan kita bersama. Jika sekolah bersih, maka kita semua akan nyaman berkegiatan di sekolah. Guru nyaman mengajar, murid nyaman belajar, pengusaha di kantin juga nyaman berjualan, pembeli juga nyaman di kantin, dan seterusnya.

Oleh karena itu, kebersihan dan sampah ini menjadi tanggung jawab kita semua. Rasa tanggung jawab inilah yang akan membuat kita risih melihat lingkungan sekitar kita tidak bersih. Rasa tanggung jawab ini pula yang akan menggerakkan kita untuk memungut sampah jika kita melihatnya berserakan. Dengan rasa tanggung jawab itu, kita tidak akan mungkin mengotori Nesaba tercinta dengan membuang sampah di sembarang tempat. “Sampahmu tanggung jawabmu, sampahku tanggung jawabku, sampah di sekolah tanggung jawab kita bersama.”

Keteladanan sebagai Jalan

Guru adalah role model bagi murid-murid di sekolah. Mereka adalah orang yang akan “digugu dan ditiru” oleh anak-anak. Apapun yang dilakukan oleh guru akan dilihat sebagai sebuah pembelajaran untuk mereka. Oleh karena itu, keteladanan dari para guru yang ada di sekolah bisa menjadi jalan untuk membuka kesadaran para murid.

Jika hanya satu guru yang memungut sampah saat ada sampah yang berserakan, maka kemungkinan besar ketika murid-murid melihat itu, mereka akan biasa-biasa saja, acuh dan tidak peduli. Namun demikian ketika semua guru melakukan hal yang sama, maka murid-murid pasti akan mengikutinya hingga itu menjadi sebuah habit.

Murid kadang berpikir, “Guru A memungut sampah yang berserakan di kelas saat mengajar di kelasnya, tetapi guru B tidak melakukan itu.” Ini akan menjadi standar ganda yang dingat oleh anak-anak. Untuk itu, standar yang diterapkan oleh semua guru Nesaba harus sama, termasuk dalam hal keteladanan akan cinta dan peduli pada lingkungan. Tanpa itu, rasanya sangat sulit untuk mewujudkan visi “sekolah yang berwawasan lingkungan.”

Peran Orang Tua di Rumah juga Penting

Perilaku “bersih” yang ada pada anak-anak di rumah pada dasarnya juga menjadi cerminan mereka di rumah. Jika anak-anak di rumah diberikan tanggung jawab atas kebersihan di rumah, maka rasa tanggung jawab itu juga akan terbawa ke sekolah. Jika anak-anak terbiasa dengan sampah yang berserakan di kelas, buku-buku yang tidak rapi di mejanya, dan sejenisnya, maka itu juga yang menjadi cerminan kesehariannya di rumah.

Untuk itu, peran orang tua di rumah dalam mewujudkan visi “sekolah berwawasan lingkungan” juga tidak bisa diabaikan. Mereka juga harus menerapkan standar yang sama di sekolah. Jika di sekolah anak diajari untuk membuang sampah pada tempatnya, maka ketika di rumah anak-anak membuang sampah di sembarang tempat, orang tua harus menasehati anak-anaknya agar tidak membuang sampah sembarangan.

Peran orang tua di rumah juga harus menjadi “guru” bagi anak-anaknya. Tanggung jawab mendidik anak tidak bisa diserahkan semua kepada sekolah atau guru. Orang tua tidak bisa seenaknya melepas tanggung jawab itu. Jika mereka menginginkan anaknya “terdidik dan terpelajar”, maka di rumah mereka juga harus bisa “mendidik dan mengajar”.

Jika anak-anak di rumah diberikan tanggung jawab terhadap lingkungan rumahnya dan ketika di sekolah mereka diberikan tanggung jawab terhadap lingkungan sekolahnya, maka secara berangsur mereka akan tumbuh menjadi generasi yang bertanggung jawab di lingkungan di mana pun mereka berada nantinya. Di samping itu, “perilaku yang berwawasan lingkungan” ini lambat laun akan menjadi habit Nesaba.

Penutup

Ekoteologi dan Nesaba yang berwawasan lingkungan ini pada dasarnya harus dipahami sebagai suatu hal yang berkelindan. Warga Nesaba yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan, sudah seharusnya juga berwawasan lingkungan, mencintai dan peduli pada lingkungan Nesaba. Cinta dan peduli pada lingkungan ini bisa dimulai dari hal-hal yang kecil, bagaimana membuat Nesaba menjadi bersih dan bebas dari sampah.

2 thoughts on “Ekoteologi dan Nesaba yang Berwawasan Lingkungan”

Comments are closed.